Tuesday, January 29, 2019

Memahami Laporan Laba Komprehensif Terhadap Teori Akuntansi

Disusun oleh:

Irfan Nurfadilah



Universitas Negeri Jakarta

Fakultas Ekonomi

S1 Akuntansi D

2019






KATA PENGANTAR



Assalamualaikum Wr.Wb, Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, serta kekuatan sehingga saya dapat menyelesaikan menyusun karya tulis ujian akhir semester ini tepat pada waktunya.

Karya tulis ini saya buat untuk memenuhi syarat kelulusan mata kuliah Teori Akuntansi. Dalam penyusunan karya tulis ini, saya selaku penulis membuat laporan ini berdasarkan hasil pengamatan jurnal-jurnal, artikel, dan laporan keuangan perusahaan yang berhubungan dengan topik yang saya angkat.

Pelaksanaan dan penyusunan karya tulis ini tidak terlepas dari perhatian serta bantuan dari pihak-pihak yang bersangkutan. Penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada, ibu Dr, I Gusti Ketut Agung Ulupui SE, M.Si, AK, CA selaku dosen pengampu mata kuliah Teori Akuntansi sekaligus koordinator program studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta, serta penulis-penulis yang jurnal dan artikelnya menjadi sumber dalam pembuatan makalah ini, dan teman-teman S1 Akuntansi D yang membantu dalam proses pembuatan karya tulis ini.

Dalam penulisan dan penyusunan karya tulis ini penulis merasa masih banyak kekurangan secara materi maupun teknik penulisan, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi penyempurnaan dalam penyusunan karya tulis.


Jakarta, Januari 2019






Penulis






Bab I

Pendahuluan




A.  Latar Belakang

Dalam buku-buku teks akuntansi (khususnya teori akuntansi), istilah income pada umumnya dimaknai sebagai jumlah bersih sehingga istilah laba lebih menggambarkan apa yang dimaksud income dalam buku-buku tersebut. Laba dalam teori akuntansi biasanya lebih menunjuk pada konsep yang oleh FASB disebut dengan laba komprehensif. Masalah yang paling rumit berkaitan dengan laba adalah menentukan konsep laba secara tepat untuk pelaporan keuangan sehingga angka laba merupakan angka yang bermakna baik secara intuituf maupun ekonomik bagi berbagai pemakai statemen keuangan.Pemaknaan atau pendefinisian laba mempunyai implikasi terhadap pengukuran dan penyajianlaba. Karena akuntansi secara umum menganut konsep kos historis, asa akrual dan konsep penandingan, laba akuntansi yang sekarang dianut dimaknai sebagai selisih antara pendapatan dan biaya. Sementara itu, pendapatan dan biaya diukur dan diakui melalui prosedur tertentu sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU).

Pada tahun 2011, komponen laporan keuangan mengalami sedikit perubahan. Perubahan tersebut antara lain, terlihat dalam laporan laba rugi menjadi laporan laba rugi komprehensif. Pendapatan komprehensif ini berisi perubahan-perubahan karena penggunaan model nilai wajar, pos-pos dalam pendapatan komprehensif lain mencakup keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi. Laporan laba rugi komprehensif tidak hanya mencakup keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi, tetapi juga mencakup keuntungan atau kerugian yang telah direalisasi. Bagian yang menyajikan keuntungan atau kerugian yang telah direalisasi disebut sebagai laporan laba rugi, sedangkan bagian yang menyajikan keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi disebut sebagai bagian pendapatan komprehensif lain.








B.  Tujuan Makalah

Karya tulis makalah ini disusun dengan maksud dan tujuan, antara lain yaitu:

1.       Memenuhi tugas yang diperuntukkan sebagai Ujian Akhir Semester dalam mata kuliah Teori Akuntansi

2.       Memahami laba komprehensif lebih dalam pada teori akuntansi


C. Rumusan Masalah

Apa itu laba komprehensif dan bedanya dengan laba rugi biasa?

D. Landasan Teori

Menurut Pratiwi (2010), untuk mengetahui kinerja yang dihasilkan perusahaan, maka laba dapat menjadi salah satu parameternya. Laba menggambarkan secara menyeluruh tentang keadaan perusahaan dan laba berasal dari unsur-unsur seperti pendapatan, beban dan komprehensif lainnya yang berhubungan dengan aktivitas operasi perusahaan

Sedangkan Menurut Veleshani (1999) (dalam Sakirman (2016) menyatakan bahwa pelaporan keuangan yang menyajikan laba rugi kom-perhensif merupakan pelaporan yang menyajikan secara menyeluruh dibandingkan dengan pelaporan laba rugi sebelumnya. Pencatatan terhadap laba rugi komperhensif dicatat berdasarkan nilai historikal, sedangkan pasca penerapan IFRS, munculnya pelaporan komprehensif lain menunjukan suatu pencatatan yang lebih detail dibandingkan dengan pencatatansebelumnya.






Bab II

Isi



1.     Laba Komprehensif Pada Teori Akuntansi

Saat ini Indonesia menerapkan standar akuntansi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang diadobsi dari International Financial Report Standart (IFRS) sebagai standar penyusunan laporan keuangan, alasan mengadopsi standar akuntansi IFRS ke dalam standar akuntansi PSAK untuk menghasilkan laporan keuangan yang memiliki tingkat kredibilitas dan komparabilitas tinggi. Selain itu, meningkatkan kualitas informasi yang disajikan dalam laporan keuangan perusahaan. IFRS merupakan standar akuntansi yang diharapkan menjadi standar global dan digunakan di seluruh dunia. Standar akuntansi IFRS menjanjikan laporan keuangan yang lebih akurat, komprehensif dan tepat waktu. Transparansi informasi juga menjadi aspek yang sangat diperhatikan dalam IFRS.

PSAK 1 (Revisi 2009) ataupun PSAK 1 (Revisi 2013) yang diwajibkan implementasinya sejak 1 Januari 2015 telah memasukkan seluruh amandemen International Accounting Standart (IAS) 1 setelah tahun 2009, sehingga konsisten dengan IAS 1 terbaru yang menyangkut semua hal penting (Warsidi, 2015). Sejak berlakunya PSAK 1 (Revisi 2009), standar untuk penyajian laporan keuangan tersebut mengalami banyak perubahan. Perbedaan tersebut salah satunya terdapat pada persyaratan laporan laba rugi komprehensif dan pendapatan komprehensif lainnya dimana entitas harus menyajikan dan mengungkapkan pos-pos other comprehensive income (OCI) dalam laporan laba rugi dan catatan atas laporan keuangan dalam suatu periode akuntansi. Laporan laba rugi komprehensif yang dihasilkan dari “laporan laba rugi tradisional” ditambah pos-pos other comprehensive income (OCI) (Lin dan Rong, 2011). Perubahan tersebut merupakan salah satu wujud dari ciri IFRS yaitu pengungkapan yang lebih lengkap dan mendetail dalam laporan keuangan.

Other comprehensive income (OCI) atau dalam bahasa Indonesia disebut






pendapatan komprehensif lain mencerminkan laba dan atau kerugian perusahaan setelah dikurangi pajak penghasilan yang tidak dikonfirmasi dalam laporan laba rugi sesuai dengan Standar Akuntansi. Perusahaan diharuskan untuk mengungkapkan secara terperinci dan terpisah setiap item pendapatan komprehensif lain, pajak penghasilan, jumlah asli disertakan dan jumlah yang ditransfer ke laba rugi. Ketentuan ini terdiri dari persyaratan pengungkapan terpisah dari pendapatan komprehensif lain, termasuk keuntungan dan kerugian yang akan dikreditkan langsung ke ekuitas yang diperlukan atau diizinkan oleh IAS di IAS1.82 dan ketentuan IAS1.7 pendapatan komprehensif termasuk laba bersih dan pendapatan komprehensif lain dan setiap item pendapatan komprehensif lain harus tercantum secara langsung dalam laporan laba rugi.

Laba rugi komperhensif yang meruakan struktur dalam laporan laba rugi dalam mencatat pendapatan serta pendapatan biaya yang tercatat secara historical. Hasil dari operasional perusahaan tercatat dalam komponen-komponen laporan laba rugi komperhensif. Pada pengukuran kinerja dapat terlihat jika perusahaan dalam kondisi lapa ataupun rugi. Pendapatan komperhensif lain memiliki tujuan melakukan pelaporan terhadap pengukuran dari perusahaan ekuitas dalam perusahaan untuk periode tertentu. Komponen laporan pendapatan komperhensif lain juga diklasifikasikan menurut akunnya secara terpisah.

1.      Perubahan Selisish Kurs Mata Uang Asing

2.      Revaluasi Aset Tetap Berwujud dan Tidak Berwujud

3.      Penyesuaian Program Imbalan Kerja / Pensiun

4.      Perubahan Investasi Aset Tersedia Untuk Dijual

5.      Lindung Nilai Arus Kas

6.      Entitas Asosiasi






Bab III

Penutup



Kesimpulan

Semenjak tahun 2008 aktivitas dimana dimulai untuk mengkovergensi IFRS terhadap PSAK, berhubungan dengan aktivitas penerapan IFRS secara bertahap. Kemudian dilakukan evalusi terhadap dampak penerapan PSAK secara komprehensif. Dengan hal itu membuat adanya perubahan dalam laporan laba rugi, terdapat tambahan yaitu laba komprehensif. Diatur Berdasarkan PSAK, munculnya laba komprehensif berasal dari :

1.   PSAK No. 10 tentang penjabaran laporan mata uang asing ke mata uang pelaporan.

2.  PSAK No. 16 tentang revaluasi aset tetap ke nilai wajarnya.

3.  PSAK No. 24 tentang program imbalan pasti yang terkait perubahan asumsi aktuaria.

4.  PSAK No. 50 tentang investasi tersedia untuk dijual.

5.  PSAK No. 55 tentang aktivitas lindung nilai dari cash flow.

6.  PSAK No. 15 tentang aktivitas asosiasi.

Alasan bertambahnya laba rugi komprehensif karena pelaporan menyajikan secara menyeluruh dibandingkan dengan pelaporan laba rugi sebelumnya. Pencatatan terhadap laba rugi komperhensif dicatat berdasarkan nilai historikal, sedangkan pasca penerapan IFRS, munculnya pelaporan komprehensif lain menunjukan suatu pencatatan yang lebih detail dibandingkan dengan pencatatansebelumnya








Daftar Pustaka



Santoso, Y. Ahmar, N. Mulyadi, JMV,.. (2017). Penyajian pendaptan komprehensif lain dan kompenen pada industri keuangan. Vol.6,No.1,Januari-Juni2017,hlm.19-31.

Ade, Faisal P,.. (2017). Analisis penyajian other comprehensive income pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek indonesia sektor barang konsumsi periode 2012 - 2016

Kahareningtyas, F. (2016). Relevansi nilai other comprehensive income dan kompenen-kompenen other komprehensive income untuk tujuan pembuatan keputusan investasi

Anggraita, V. Rosyadi, M,. (2014). Relevansi Risiko Pengukuran Laba Bersih, Laba Komprehensif dan Laba Nilai Wajar: Studi pada Bank-Bank yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Bima, P. Afri, YEN,. (2017). Dampak pengungkapan pendapatan komprehensif lain terhadap manajemen laba pada perusahaan di indonesia. Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017, Halaman 1-15 ISSN (Online): 2337-3806

Soewardjono. 2005. Teori Akuntansi. BPFE Yogyakarta. Yogyakarta

No comments:

Post a Comment